Kebosanan Bernama Cliche

Sebuah Kebosanan

Baru saja saya menonton sebuah film, drama bercampur dengan action, alur ceritanya pun sangat bagus seperti umumnya film genre action dan drama, ditambah adegan-adegan yang seru. Saya pun menikmati film tersebut sampai selesai. Tapi tunggu dulu, setelah saya ingat-ingat, film tersebut memang sepertinya tidak memberikan surprise atau kejutan tersendiri bagi saya dari awal sampai dengan ending. Mulai dari adegan penculikan, cowonya berantem dengan penjahat untuk menyelamatkan kekasihnya, spotnya beberapa diambil di tempat2 seperti basement parkir yang kosong dan gelap, di gudang penuh peti kemas. Hal hal yang sebelumnya pernah saya temui di film lain, walaupun tentunya tidak 100% sama, tapi secara umum, saya merasa pernah merasakan hal yang sama di beberapa film yang terlebih dahulu dirilis, bahkan mungkin dengan film yang baru dirilis beberapa bulan sebelumnya.

Lalu saya mereka-reka, kenapa saya tidak lagi merasa bersemangat atau excited dengan film yang lebih baru dengan pemeran nya jauh berbeda, jauh lebih fresh.
Dan saya pun menemukan satu hal yang kiranya bisa menjawab semua itu, yaitu Cliche. Porsi visual cliche yang begitu banyak dengan jeda waktu yang tidak begitu lama dengan film yang sudah menyajikan hal yang sama mungkin menjadi alasan tepat kenapa saya tidak sepenuhnya menikmati film baru tersebut.
Istilah cliche berasal dari bahasa Perancis. Istilah ini digunakan untuk hal yang terlalu sering digunakan, sehingga kehilangan kesan atau impact aslinya, misalkan sebuah gaya komposisi foto yang pada saat awalnya terlihat bagus, jika digunakan terus menerus oleh banyak orang maka kesan “bagus” tersebut bisa bergeser menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja dan kesan yang luar biasa menjadi hilang dengan sendirinya.
Penggunaan cliche secara terus menerus juga akan mencerminkan kemalasan dan keengganan untuk berinovasi atau mengamati sesuatu dengam cara baru atau meningkatkan intensitas perhatian sehingga kita bisa menangkap hal yang benar-benar baru.
Dalam fotografi, banyak sekali kemungkinan cliche terjadi, bukan hanya dalam tahap capturing saja, tapi bisa saja dalam segala proses fotografi berupa editing, dan penyajian hasil foto. Apakagi di era internet seperti ini. Jutaan foto diunggah setiap hari, bahkan dalam hitungan jam. Kemungkinan penyajian cliche menjadi semakin besar.
Apakah cliche salah? Tentu tidak, dalam beberapa hal dan dengan penggunaan yang tepat, cliche justru bisa dimanfaatkan untuk memperkuat foto dengan memanfaatkan ingatan, masa lalu, dan kenangan seseorang. Dalam penggunaan yang tepat takarannya, cliche akan menjadi penanda yang kuat pada karya kita.
Cliche selalu dinamis, Hal yang awalnya sangat unik, ditiru, lalu ditiru lagi, dengan berlebihan, maka akan bergeser menjadi cliche.
Lalu bagaimana seharusnya yang dapat dilakukan agar tidak terjebak dalam memotret hal-hal yang cliche?. Berikut beberapa catatan pribadi saya agar kita tidak terjebak dalam cliche

1. Semua orang suka dengan kejutan, semua orang akan tertarik dengan kejutan

Siapa yang tidak suka dengan kejutan, sudah menjadi sifat alami manusia untuk cenderung menyukai kejutan. Bukan hanya kejutan yang menyenangkan saja, tapi lihat saja kejutan yang menyedihkan juga mampu menarik perhatian banyak manusia. Mulai dari peperangan, musibah tsunami, dan banyak hal lainnya.
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu dirundung kebosanan. Jika ingin menarik perhatian mereka, hadirkanlah sesuatu yang baru, sebuah kejutan. Sesederhana apapaun bentuknya.
Sebuah foto yang mampu mengundang opini “Kok bisa begini ya”, “Aku kok nggak kepikiran ambil foto bergini”, “Ini kayak bukan di jakarta deh”, dan lain sebagainya adalah salah satu tanda bahwa foto tersebut beda, dan tidak membosankan.

2. Sometimes, try not to choose easier way

Dalam memotret, kita dihadirkan dengan banyak sekali kemungkinan yang membuat kita harus memilih. Ada cara memotret yang mudah, yang tidak akan menguras tenaga dan pikiran. Ada juga cara yang tidak mudah, yang mungkin akan jauh menguras tenaga, waktu, pikiran dan biaya.
TN150144

Nek Onah © Tomy Nurseta

Bayangkan di hadapan anda ada sebuah parade pertunjukan kesenian, bisa saja anda memotret dengan cara dan pendekatan yang biasa-biasa saja. Meminjam istilah seorang teman saya, hasil fotonya pun tidak akan jauh berbeda dengan hasil pencarian foto di google, artinya, kemungkinan besar foto yang dihasilkan akan biasa-biasa saja. Tapi seandainya saja kita memilih untuk mengeksplorasi pemandangan di depan kita dengan cara dan pendekatan yang sedikit tidak biasa, misalkan dengan angle yang unik, dengan timing yang unik, tentu kemungkinan besar foto yang dihasilkan akan unik juga.

3. Cobalah sesekali untuk tidak menggunakan materi terbaik

Dalam fotografi, bahan baku cerita atau set yang berkualitas memang sangat menggoda untuk dipotret. Peperangan, pemandangan yang indah, musibah, dan hal-hal dramatis lainnya adalah materi yang sangat berkualitas untuk dijadikan bahan pemotretan.
Dengan menggunakan bahan yang berkualitas, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan menjadi bagus. Tapi jangan bersenang hati disini, berlian tanpa banyak diolah pun tetaplah berlian. Artinya jika kita terbiasa menggunakan bahan terbaik untuk proses fotografi kita, maka tanpa disadari kita akan terbiasa memotret tanpa ruang eksplorasi yang luas.
Memotret kehidupan sehari-sehari yang biasa-biasa saja justru saya yakini mampu mengasah kemampuan memotret kita. Semakin kita membiasakan mencari keunikan di antara sesuatu yang sangat biasa, semakin kita terasah untuk mengubah yang ordinary menjadi extra ordinary.
Evening Cigarette © Tomy Nurseta

Evening Cigarette © Tomy Nurseta

4. Jika harus mencuri ide, jangan mencuri mentah-mentah

Salah satu hal yang saya pelajari dari buku bagus berjudul “Steal Like an Artist” karya Austin Kleon , sebuah buku kecil, ringan, namun berisi saran yang benar-benar down to earth, sangat applicable.
Mencuri ide bukan hal yang salah, yang menjadikannya salah adalah jika kita mencuri ide tersebut secara mentah-mentahan, plagiat. Plagiat itu murahan, mengadaptasi ide orang lalu mengembangkannya menjadi suatu yang lebih mengejutkan, disanalah nilai dari sebuah karya akan muncul dengan sendirinya. Plagiat itu mudah, sedangkan mengembangkan ide yang muncul dari orang lain menjadi sesuatu yang lebih bernilai, disanalah proses yang seharusnya kita nikmati.
Ah saya jadi kemana-mana ngobrolnya, gara-gara nonton film nih.
Enjoy the day, semoga bermanfaat :)
facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail