5 Hal yang Menjadikan Street Photography Tidak Pernah Membosankan

Saya tidak ingat lagi kapan saya mulai menyukai jenis fotografi seperti ini, tanpa batasan, yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai Street hotography. Tapi yang dapat saya pastikan adalah bahwa hingga sekarang rasanya saya tidak pernah merasa bosan untuk berburu foto dengan pendekatan street photography ini. Tidak hanya itu, setiap kali saya menikmati karya-karya fotografer lain yang kebanyakan karyanya dapat disebut sebagai “Street Photography“, saya belum dapat menemukan kebosanan itu.

Cages Scene | Bandung 2014 (c) Tomy Nurseta

Cages Scene | Bandung 2014 (c) Tomy Nurseta

Lalu saya mencoba mengingat-ingat kembali, hal-hal apa yang kiranya bisa membuat aliran fotografi yang satu ini terasa tidak pernah membosankan. Saya membuka kembali arsip foto-foto street photography pribadi saya, dan kemudian memutuskan untuk mulai membagi pendapat pribadi saya dalam tulisan ini.

Dapat dilakukan hampir dimana saja

Street Photography, secara harfiah memang seolah berarti aliran fotografi yang dilakukan di jalan/jalanan. Tapi ternyata aliran yang dimaksud bukanlah melulu tentang jalan/jalanan. Karakteristik yang sangat membentuk hampir seluruh street fotografi adalah lokasi pemotretannya yang kebanyakan dilakukan pada ruang publik (public space), walaupun masih tidak menutup kemungkinan pendekatan street fotografi dilakukan pada ruang pribadi (private space).

Conversation on Commuter Line (c) Tomy Nurseta 2014

Conversation on Commuter Line (c) Tomy Nurseta 2014

Perekaman foto pada ruang publik yang terbuka, menurut saya adalah salah satu hal yang membuat aliran fotografi ini seolah tidak ada habisnya. Banyaknya macam kejadian yang mungkin terjadi di ruang publik adalah tidak terhingga. Unsur-unsur komposisi fotografi yang tak terhingga jumlahnya yang dapat ditemui di ruang publik seperti garis, kurva, titik, pengulangan sebuah bentuk (form or shape) dan lain-lain. Ketika kita berada di ruang publik, tersedia banyak sekali variable yang dapat kita kombinasikan untuk menangkap sebuah foto yang hampir selalu baru dan fresh.

a Tricky Lies, a Honest Lies

Apa yang membedakan Street Fotografi dan Jurnalisme?, sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan rekan saya Rian Afriadi yang pada kesempatan itu adalah sebagai pemateri dalam diskusi street fotografi yang diselenggarakan oleh DoF (DJP Own Fotobond). Butuh beberapa waktu seusai acara diskusi tersebut bagi saya untuk mengingat pertanyaan tersebut dan kemudian menjawab dengan pendapat pribadi saya.

Photojurnalism merupakan bagian dari proses jurnalisme yang tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan sebuah berita atau informasi. Dalam jenis fotografi ini, terdapat kerangka kode etik yang jelas dan gamblang. Jenis fotografi ini sangat menjunjung tinggi kejujuran dan membutuhkan sebuah kondisi sikap yang berimbang dan ketidakberpihakan mengingat tujuannya sebagai salah satu media penyampaian informasi. Dari topik ini, perbedaan antara photojurnalism dan street photography bisa diurai.

Street photography, Sejauh ini, saya tidak menemukan adanya keharusan untuk selalu “jujur”. dalam genre ini, Semakin “nakal” ide foto kita, kadangkala sangat membantu dalam menangkap foto yang memiliki “wow factor”. Kadang street fotografi itu bisa mengandung sebuah kebohongan yang jujur, a Honest Lies, a Tricky Lies, kebohongan lebih melalui permainan komposisi, pemotongan (cropping) yang diluar kebiasaan, dan bukan kebohongan dengan menggabungkan beberapa gambar menjadi satu dalam post process setelah pemotretan.

dan ternyata berbohong melalui foto pun tidak akan selalu mudah, hal ini juga, menurut pendapat saya, yang menjadikan genre ini semakin menarik.

Abduction

From Local Night Market at Ciledug, Indonesia. (c) Tomy Nurseta 2013

Tanpa Batas

Seperti halnya genre-genre fotograi lainnya, genre street fotografi pun menawarkan sebuah ruang tanpa batas. Apakah kita harus punya gear yang sangat canggih untuk bisa memotret genre seperti ini?. Tidak, bahkan street photographer terkemuka seperti daido moriyama ternyata “hanya” menggunakan kamera compact/pocket sized dalam karya-karyanya. Apakah kita harus bepergian ke sebuah tempat tertentu untuk mendapatkan foto street yang menarik?. Tidak juga, kecuali jika kita memiliki project foto pribadi yang berkaitan dengan lokasi tertentu. Apakah street photography itu selalu harus ada subjek manusia di dalamnya? dan Saya orang yang kurang bisa berinterkasi dengan orang asing, apakah saya tidak bisa menekuni genre ini?. Tidak juga, Coba lihat karya seorang street photographer terkemuka, bahkan banyak yang juga menyebutnya sebagai father of street photography, Eugène Atget, yang kebanyakan foto-fotonya justru tanpa kehadiran manusia.

Manekin. Pasar Baru (c) Tomy Nurseta 2013

Manekin. Pasar Baru (c) Tomy Nurseta 2013

Being Invisible (or Not)

Salah satu karakteristik street photography adalah hampir setiap fotonya yang diambil secara candid, unstaged. Sehingga banyak sekali kita bisa merasakan sebuah kondisi natural, alami, kadangkala reaktif dari subjek foto. Untuk memperoleh foto dengan karakteristik seperti ini, kemungkinan besar akan membutuhkan pendekatan yang sedikit tidak biasa. Being invisible, sehingga kehadiran di ruang publik tidak terlalu menyita perhatian, adalah salah satu pendekatan yang banyak sekali digunakan oleh street photographer terkenal.

Legs

Lapangan Futsal, Bawah Jembatan Pasopati, Bandung Indonesia (c) Tomy Nurseta 2014

Tapi sekali lagi, being invisible juga bukanlah cara mutlak. Jika kita melihat pendekatan street photography Bruce Gilden, magnum photographer, yang cenderung frontal dan seringkali menggunakan flash light yang menurutnya mampu membantu menangkap emosi yang riil dari subjek foto. Gayanya yang frontal pun terbukti mampu menghasilkan foto-foto dengan subjek foto yang reaktif, dan unik.

Always Unpredictable

Disinilah saya menemukan kenikmatan street photography, hasil foto yang benar-benar tidak dapat diprediksi merupakan kesenangan tersendiri dalam genre ini. Saya biasa hanya berjalan, naik kereta, lalu berjalan lagi, tanpa pernah bisa mengira-ngira foto apa yang bisa saya tangkap.

Horse. (c) Tomy Nurseta 2014

Horse. (c) Tomy Nurseta 2014

 

[quote]”Don’t become a photographer unless its what you ‘have’ to do. It can’t be the easy option. If you become a photographer you will do a lot of walking so buy good shoes.” (David Hurn, Magnum Photographer)[/quote]

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
  • http://bermaindengancahaya.blogspot.com bachtiar

    tulisane keren bro..

    • http://www.tomynurseta.com Tomy Nurseta

      Thanks :)

  • http://www.fotonyadeddy.com deddy h

    Apik tulisane.. Fotonya juga asyik

  • http://alfdjones.tumblr.com/ Alfonsus D. Johannes

    saya sependapat dengan “always unpredictable”nya mas.

    bahkan menurut saya dengan hape juga bisa dapat foto yang bisa dibilang street/candid.

    jika berkenan mampir ke http://alfdjones.vsco.co/grid/1 mas ada 2-3 foto belajar nye-treet. hehe

    terima kasih :)

  • http://www.tomynurseta.com Tomy Nurseta

    Betul mas alfonsus… manteb vsco gridnya :) sayang saya blm bikin vsco grid

  • http://martoscbox.wordpress.com/ Martosc, [Gm]

    Saya pikir pembeda antara photojournalism dan street photography adalah pada intent (niat). Jurnalisme berniat untuk bercerita, sementara street photography berniat untuk menghasilkan seni (entah seni apa itu :D). Satu foto yang sama bisa masuk dalam kedua kategori tadi — bergantung bagaimana si fotografer menyajikan informasinya. Misalkan sebuah foto orang lagi makan tempe; fotografer bisa bermaksud menangkap orang sedang makan tempet. That’s it. Atau bisa juga si fotografer bermaksud menangkap orang sedang makan tempe secara artistik… eh, ngerti gak maksud sayah? Hehehe…
    Ah, tapi, sudah lah… saya gak seberapa ngerti fotografi. Gak perlu lah saya mengkotak2an genre. Jadi seperti mas Tomy saja… generalist :-)

    • Tomynurseta

      setuju, Salah satu poin penentu bagi seorang pemotret adalah “purpose” dimana mungkin saja hanya Tuhan dan Fotografer nya yang mengerti. Dan yang menentukan “Purpose” sendiri adalah intent dari fotografer tersebut :)

      salam kenal