Fotografi Itu Sederhana

Takes two to tango © Tomy Nurseta. 2016

Takes two to tango © Tomy Nurseta. 2016

Berawal dari percakapan warung kopi dengan seorang teman yang sepertinya ingin memulai minatnya di bidang fotografi. Teman satu ini mengikuti info-info tentang fotografi, rajin mengikuti perkembangan tentang fotografi, namun masih enggan “memulai” petualangan fotografinya sendiri. Bagi saya sudah menjadi kesenangan tersendiri untuk membantu, atau membagi apapun pengalaman yang saya punya (baca. meracuni hehe) walaupun sedikit.

pada bagian awal percakapan lebih didominasi dengan teman saya berbicara, saya menjadi pendengar. Dimulai dari kondisi pribadinya, keluarga, finansial, dan kekhawatiran jika nanti fotografi akan mengubah kestabilan dalam kehidupannya. Dilanjutkan dengan membahas umur, yang menurutnya sudah terlambat untuk mengejar ketertinggalan. Tidak lupa teman ini menceritakan kisah klasik “Kamera yang Terabaikan” milik teman-temannya yang pada akhirnya berserah diri pada kenyataan bahwa ternyata hobi fotografi akan kalah dengan kenyataan pahit harus mengutamakan “cari duit”, waktu habis tersita untuk keluarga, dan kenyataan-kenyataan pahit lainnya ?

“Alat fotografi yang harganya mahal, belum lagi godaan untuk mengoleksi buku fotografi yang biasanya dilabeli dengan harga diatas buku genre lainnya. Oh ya, nantinya juga harus ikut pelatihan-pelatihan fotografi yang juga lumayan biayanya.” “Belum lagi harus beli tas khusus, dry cabinet biar kamera ngga jamuran, filter, flash, tripod, ngejar-ngejar sunset dan sunrise, apalagi kalo pas ke pantai, gw ga bisa ikutan renang Bro !” Ujarnya.

“Fiuhhh.” Saya ikut merasakan beratnya pertimbangan teman satu ini.

Akhirnya saya putuskan untuk mulai menjadi pihak yang mulai berbicara. “Bro, lu suka makan daging sapi ngga?” pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala saya yang saya utarakan tanpa filter apa-apa. “Iya, Suka… tapi kok pertanyaannya ga nyambung sih?”, jawab teman saya, bingung. “Lu mau ngga telan sapi itu utuh-utuh ?” Tanya saya. “Gile lu… enggak lah!” Jawab teman saya tegas. “Emang hubungannya apaan ama fotografi?” si teman bertanya balik ke saya. “Engga, dari cerita lu seolah-olah lu pengen melahap fotografi sekali telan.” Jawab saya singkat. Lalu kami pun tertawa.

Mungkin bukan hanya teman saya tadi yang memiliki pertimbangan seperti cerita di atas sebelum memulai hobi fotografi, karena sebelumnya ada beberapa teman-teman yang berpandangan sama. Apakah pandangan tersebut salah?

KAMERA ITU MAHAL

Fotografi sederhananya berarti merekam cahaya. memotret dengan smartphone pun juga fotografi, merekam dengan kamera saku dengan harga termurah pun juga masih fotografi, merekam dengan kamera film 35mm jadul juga masih fotografi. Semuanya fotografi, yang membedakan hanya “pena” nya saja. ada yang menggunakan merk aurora dimante, montblanc, bahkan merk pilot.

Tweet © Tomy Nurseta 2016. DIrekam dengan kamera smartphone

Tweet © Tomy Nurseta 2016. Direkam dengan kamera smartphone

Saya sudah banyak menjumpai foto yang luar biasa dibuat dengan kamera yang biasa-biasa saja. Jadi terlalu disayangkan jika alasan materialistik jadi penghalang untuk memulai menciptakan karya-karya fotografi. Kalaupun harus membeli kamera, tentukan budget yang terjangkau dan rasional, baru pilih kamera yang dapat dijangkau oleh budget tersebut. Nikmati dan kenali kamera tersebut benar-benar. Lalu nikmati fotografi seperti apa yang akhirnya disukai. Barulah kenali mana yang benar-benar menjadi kebutuhan fotografi. Jangan terjebak pada belanja alat fotografi membabi buta tanpa tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan karena itulah yang membuat fotografi menjadi mahal.

SAYA TIDAK PUNYA WAKTU

Kembali ke kisah klasik berjudul “Kamera yang Terabaikan”. Kamera yang susah payah dibeli (mungkin ga semuanya susah payah buat beli kamera, hehe) pada akhirnya nganggur, sampai jamuran. Kok bisa?. Alasannya bermacam-macam, ada karena tidak sanggup lagi untuk mengikuti trip-trip fotografi atau merasa terlalu boros ikutan motret model, ada yang menjadikan keluarga sebagai alasan dibalik kisah mengenaskan tersebut, ada yang menyalahkan pekerjaan sehari-hari yang membuatnya kehabisan waktu untuk menyentuh kameranya lagi. Banyak alasan dibalik kisah klasik tersebut yang intinya adalah anggapan bahwa motret itu harus dengan subyek cantik, menarik, harus jauh, ke pantai, ke tempat indah, pokoknya naik pesawat minimal naik kereta.

New Year 2016 © Tomy Nurseta

New Year 2016 © Tomy Nurseta

Padahal fotografi itu bisa bersifat sangat personal, sangat pribadi, untuk kepentingan pribadi dan untuk kepuasan pribadi. Fotografi tidak selalu harus membuat orang lain memperoleh orgasme visual pada setiap foto kita. Malah nyatanya banyak foto-foto yang bersifat personal justru disukai dan dinikmati banyak orang. Memotret keluarga sendiri, memotret anak, memotret suasana kerja, memotret dalam rutinitas pulang dan berangkat kerja, memotret masakan istri, fotografi juga bisa berperan sebagai jurnal pribadi, yang berbentuk visual. Sangat disayangkan kalau kita mengira fotografi itu harus pergi jauh pokoknya naik pesawat, menyewa studio foto, harus menyiapkan fee untuk model. Fotografi tidak harus seperti itu.

Cheesy Easy © Tomy Nurseta 2014

Cheesy Easy © Tomy Nurseta 2014. Jogja – Madiun Train

Selama tahun 2015, saya mencoba pada diri sediri untuk menjalani fotografi seperti di atas, hasilnya tidak mengecewakan, justru membuka lebar-lebar mata saya bahwa berkarya itu bisa jadi sangat sederhana. Selama 1 tahun dapat dipastikan saya sengaja menghindari hunting foto ke tempat yang “jauh-jauh” untuk brainstorming dan mengubah mindset saya tentang fotografi. Setiap hari, saya membawa kamera apapun sebisa saya ke tempat kerja, Istirahat makan siang umumnya menjadi waktu saya untuk mencoba memotret apapun yang menurut saya menarik. Sulit awalnya, namun hasilnya tidak mengecewakan. Saya percaya ketika seseorang mampu menghasilkan karya menarik dari bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya, maka orang tersebut niscaya tidak akan mengalami kesulitan jika bahan yang lebih baik tersedia di hadapannya. Jika seseorang mampu menuliskan cerita sehari-hari dengan fotografinya, maka ia siap untuk menceritakan, melalui foto, peristiwa atau pemandangan yang lebih spesial untuk orang banyak.

BIAYA KURSUS FOTOGRAFI MAHAL

Mahal atau tidak memang relatif, bukan tergantung kemampuan dompet masing-masing, tapi lebih kepada bagaimana cara kita melihat value. Ada yang melihat biaya mengikuti kelas fotografi sebagai pengeluaran, maka saya melihat biaya tersebut sebagai investasi. Saya lebih baik mengeluarkan uang yang sebanding untuk memperoleh mentor yang bisa menjadi katalis peningkatan kemampuan saya dalam berfotografi dibanding jika harus mencoba satu-satu cara atau pendekatan sampai saya menemukan fotografi yang cocok untuk pribadi saya.

Olah Raga Jumat © Tomy Nurseta. 2015

Olah Raga Jumat © Tomy Nurseta. 2015

Apakah harus ikut kelas/ kursus fotografi? itu akan terjawab sendirinya jika anda sudah memulai mendaki tangga-tangga fotografi. Banyak jalan menuju Roma (Banyak workshop foto gratisan maksud saya hehe ). Banyak pilihan dalam fotografi.

Di luar kelas / kursus fotografi masih banyak jalan lain untuk meningkatkan pengetahuan fotografi kita seperti belajar melalui artikel-artikel online, bergabung dengan kelompok fotografi untuk learn and share, membaca buku fotografi, dan masih banyak cara lainnya yang bisa dijadikan alternatif pilihan.

KESIMPULAN

Exhausted © Tomy Nurseta. 2012

Exhausted © Tomy Nurseta. 2012

Mulailah fotografi dengan sesederhana mungkin. Tidak ada yang menghalangi kita untuk berkarya selain diri kita sendiri. Jika harus membeli kamera, maka belilah kamera yang terjangkau oleh budget anda. Jangan latah gadget, membeli gear sebanyak-banyaknya yang akhirnya tidak semuanya optimal terpakai. Sebelum membeli alat-alat fotografi yang tidak dibutuhkan, ingatlah kisah klasik mengenaskan “Kamera yang terabaikan”.

Mulailah berkarya dari hal-hal yang terdekat dan paling terjangkau, jika memang mampu secara materi dan waktu, barulah pilih lokasi dan subyek pemotretan yang jauh dan menurut kita layak untuk didatangi. Belajarlah bercerita, bukan membuat-buat cerita karena itulah yang memperumit proses fotografi kita. Fotografi itu sederhana, sesederhana pena dalam menulis cerita.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail