Memulai Street Photography

Semua Foto yang terdapat pada artikel ini memiliki hak cipta yang melekat pada fotografer

Seperti kembali pada ingatan lama ketika saya mulai tertarik dengan street photography, semuanya begitu membingungkan. Dimana saya bisa mulai memotret foto street? Alat apa yang sangat cocok untuk memotret street? Apa yang harus saya rekam dalam foto? Bagaimana saya memotretnya? Banyak sekali kebingungan saya yang saat itu baru mulai tertarik dengan aliran street photography.

20140816-TN121226

© Tomy Nurseta – Struggle

Namun saya bersyukur, hidup di era dimana informasi bisa saya peroleh dengan bebas dan leluasa. Banyak sekali pelajaran-pelajaran tentang street fotografi yang saya peroleh melalui Internet. Sehingga saya berharap melalui blog ini, sebagai partisipasi saya, untuk semua informasi yang selama ini saya peroleh secara sangat leluasa melalui internet, saya bisa berkontribusi menjadi bagian dari sumber yang tersedia bagi siapa saja yang berminat dengan street photography dan fotografi itu sendiri secara umum.

Saya mulai intens mempelajari street photography sekitar 2 tahun yang lalu, untuk awalnya memang sangat membingungkan. Tapi hampir semua hal akan terasa membingungkan pada awalnya. Yang saya rasa perlu lakukan saat itu adalah membiasakan diri. Bisa karena terbiasa, walaupun sampai sekarang saya belum merasa bisa. hehe

Berbicara tentang Persiapan dalam memulai Street Photography, maka saya akan membagi topik ini ke dalam 2 poin utama yaitu Persiapan Peralatan dan Metode memotret..

PERALATAN

Apakah kita harus menggunakan kamera yang terbaik atau seperti yang kebanyakan orang menyarankan untuk Street Photography yaitu jenis kamera rangefinder?

Tidak, tapi saya rasa kita perlu memilih alat yang membuat kita paling nyaman dalam memotret, dan tentunya alat yang sesuai dengan kebutuhan dan tentunya, Anggaran. Bahkan setiap ada teman yang meminta rekomendasi sebelum membeli kamera, saya selalu bertanya dari awal, berapa budget maksimal yang sudah disiapkan untuk pembelian kamera setelah itu baru saya menanyakan apa kebutuhannya.

Tomynurseta-0010303

© Tomy Nurseta – Kidnapped

Bagaimana alat yang nyaman untuk Street Photography ?

Kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika saya mengenal fotografi untuk kali pertamanya. Saat itu saya terlalu mengagung-agungkan alat, betul, kamera hanyalah alat, hanya saja saat itu saya belum sadar, Maklum bro, Newbie maksimal 😀 . Dulu saya selalu berasumsi bahwa untuk mencapai hal yang lebih tinggi dalam fotografi, maka saya perlu menaikkan kelas peralatan foto saya. Saya pun memulai petualangan alat-alat fotografi, Yap, Petualangan alat, dimana saya hampir telah mencoba berbagai merek kamera, lensa, dan lain sebagainya sampai saya sendiri lupa apa tujuan awal saya, yaitu menghasilkan foto. Silahkan menebak apa yang dihasilkan orang yang lupa dengan tujuan awalnya. Tentunya hampir semua orang bisa menebak dengan benar, apa yang saya hasilkan setelah saya berkutat hanya pada peralatan memotret, Tidak ada. Big Nothing.

Saya bersyukur memiliki banyak teman yang mungkin secara tidak langsung telah menyadarkan saya tentang tujuan awal saya menekuni hobi fotografi, lebih spesifik lagi, street Photography.Saat ini saya telah menemukan kamera yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan saya dan yang penting, yang bisa membuat saya nyaman dalam memotret. Jangan ditanya merk kamera apa yang saya gunakan, karena saya juga tidak ingin mempengaruhi siapa untuk membeli apa. Maklum belum ada yg minta saya ngiklan. Hehe. Dan lagi, nyaman itu subyektif sih, nyaman buat saya belum tentu nyaman buat orang lain. Kembali ke Topik, hal-hali inilah yang membuat saya nyaman dengan sebuah kamera dan merasa cukup :

  1. Viewfinder, viewfinder atau jendela intip adalah kebutuhan utama bagi saya sebagai penyuka street photography, dengan viewfinder yang memadai maka kita tidak akan terusik dengan silaunya cahaya yang kadang membuat kita rancu dan kurang teliti jika kita hanya memotret dengan mengandalkan layar LCD kamera. Lebih jauh lagi, memotret dengan viewfinder bisa membantu kita menjaga eye contact dengan subjek foto kita dibandingkan jika kita hanya menggunakan layar LCD. Street Photography seringkali membutuhkan interaksi yang baik antara fotografer dengan subjek fotonya.
  2. Handling, Apakah kamera tersebut terasa pas di tangan kita? tentunya hal ini juga wajib menjadi perhatian kita. Jika tidak, alih-alih kita bisa berkonsentrasi dengan subjek dan pemandangan yang ada di hadapan kita, pasti tidak mengenakkan jika kita direpotkan dengan kamera kita sendiri.
  3. Kecepatan, Seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya, Street Photography adalah seeing-reacting, spontan. Tentunya untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang kita lihat, pastinya membutuhkan kamera yang bisa diajak kerja cepat. Kecepatan disini sama sekali tidak berhubungan dengan spesifikasi kamera tinggi seperti kemampuan menangkap banyak frame per detik, tapi lebih ke kamera yang cocok dengan kita. Kecepatan disini lebih kepada seberapa baik kita mengenal kamera kita, sehingga kita bisa menerjemahkan keinginan kita dengan baik melalui alat tersebut. Secanggih apapaun kamera, akan menjadi lambat jika kita tidak mengenal kamera tersebut dengan baik.
  4. Hasil Foto, Kemampuan kamera dalam menghasilkan foto dengan kualitas yang memadai tentunya wajib diperhatikan. Karena itulah hasil utama kamera, sebuah foto.
  5. Ukuran kamera, Saat ini, dengan kemajuan teknologi, banyak sekali pilihan ukuran kamera yang ada di hadapan kita mulai yang besar sampai ke kamera yang pocketable, yang betul-betul bisa masuk kantong baju atau celana. Saya sendiri pengguna kamera mirrorless, mengapa? karena relatif kecil, dan kamera lebih kecil tentunya saya merasa terbantu dalam mendekati subjek foto, karena saya percaya semakin kecil ukuran kamera kita, maka semakin kecil kemungkinan subjek foto merasa terimintidasi dengan kehadiran kita yang menenteng kamera
  6. Warna Kamera, Hitam, mungkin hanya preferensi pribadi, karena tidak mencolok saat kita berada di tengah keramaian, sehingga sangat mendukung untuk blending in dengan subjek-objek foto di sekitar kita
  7. Flash, kemampuan kamera untuk bekerja dengan alat pencahayaan berupa flash tentu sangat penting. Saya sendiri mengutamakan kamera yang memiliki baik built in flashlight, maupun yang mendukung penggunaan lampu blitz lepas dari kamera (off shoe) . Dan untuk Street Photography, saya cenderung membutuhkan kamera yang memiliki 2nd sync atau rear sync untuk membuat efek tertentu.

Hal-hal tersebut di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi saja, tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi kebutuhan yang awalnya belum tentu penting tetapi dengan perkembangan teknologi bergeser menjadi kebutuhan dasar. Contohnya kemampuan komunikasi wireless dimana kamera bisa dikontrol melalui smartphone, sehingga kita bisa memotret hal-hal yang terlalu beresiko untuk kita dekati langsung seperti memotret adegan tarian ular kobra dengan lensa lebar, dan lain sebagainya.

Tapi kembali pada kebutuhan dasar dalam fotografi, yaitu merekam foto. Apapun itu alatnya, sepanjang kita nyaman, menguasai dan mengenali alat tersebut dengan baik untuk merekam foto, maka semua akan baik-baik saja.

METODE

Seperti yang telah saya utarakan dalam posting sebelumnya, street fotografi yang saya pahami cenderung memiliki karakter spontanitas, seeing – reacting. Banyak yang beranggapan bahwa street fotografi adalah tentang faktor keberuntungan, dimana sedikit terdengar ironis sekaligus naif jika kita memotret hanya mengandalkan keberuntungan. Lebih lanjut tentang keberuntungan, saya lebih setuju dengan ungkapan Trent Parke, salah satu member Magnum Photo berkebangsaan Australia, yang menggambarkan bagaimana Ia memperoleh foto fenomenal, bagaimana seolah-olah ia selalu beruntung sehingga foto-fotonya selalu bisa membuat orang kehabisan kata-kata. Trent parke mampu mengubah hal-hal yang seolah ketidaksengajaan menjadi sebuah keberuntungan dalam memotret secara beruntun, hampir di setiap fotonya yang telah dipublikasikan.

Apa yang kira-kira dilakukan Trent Parke untuk dapat seolah menjebak keberuntungan? adalah persiapan, antisipasi dan metode pendekatan yang tepat, yang mampu membantunya menjebak keberuntungan itu secara berturut-turut, konsisten.

© Trent Parke/Magnum Photo

© Trent Parke/Magnum Photo

mengutip penjelasan Trent Parke dalam salah satu thread pada forum flickr Hard Core Street Photography mengenai fotonya yang terkenal dalam buku Dream/Life, “bus stop” :

“I went each evening, for about 15 minutes, when the light came in between two buildings. It happens only at a certain time of the year: you’ve just got that little window of opportunity. I was relying so much on chance – on the number of people coming out of the offices, on the sun being in the right spot, and on a bus coming along at the right time to get that long, blurred streak of movement. If I didn’t get the picture, then I was back again the next day. I stood there probably three or four times a week for about a month. I used an old Nikon press camera that you could pull the top off and look straight down into, because I was shooting from a tiny tripod that was only about 8cm high. I had tried to lie on the ground, but people wouldn’t stand anywhere near me. I finally got this picture after about three or four attempts. I shot a hundred rolls of film, but once I’d got that image I just couldn’t get anywhere near it again. That’s always a good sign: you know you’ve got something special.”

Foto di atas adalah salah satu foto yang benar-benar spesial, bayangan jendela bus yang menghasilkan efek gerakan, lalu cahaya yang sangat teratur, impact yang dihasilkan pun sangat kuat. Foto di atas, sesuai dengan keterangan dari petikan wawancara dengan Trent Parke, adalah satu foto yang spesial setelah menghabiskan banyak roll film, selama hampir satu bulan, dimana Trent Parke melakukan 3 sampai dengan 4 kali kunjungan dalam satu minggunya. Dengan kata lain Trent Parke membutuhkan paling tidak 12 kali kunjungan ke tempat yang sama, menghabiskan banyak roll film untuk dapat menghasilkan satu foto yang spesial. Cara yang dilakukan Trent tersebut lah yang saya maksud dengan menjebak keberuntungan. Kita bisa mengandalkan kesempatan untuk memotret yang datang ke hadapan kita. Tapi akan sangat naif dan ironis jika kita hanya mengandalkan keberuntungan, apalagi menyalahkan keberuntungan jika kita tidak memperoleh satupun foto yang bisa kita anggap spesial.

Lalu metode apa yang harus digunakan dalam memotret street photography?. Tentunya bisa beragam jawabannya, semua tergantung pada lingkungan yang ingin kita foto. Apakah lingkungan tersebut berisi masyarakat yang sibuk dengan dirinya sendiri, apakah masyarakat yang sangat peka terhadap kehadiran orang asing, dan masih banyak demografi lingkungan lain dimana penyesuaian berada pada diri kita, fotografer, bukan pada subyek kita. Metode juga sangat bersinggungan dengan etika dan hukum. Memotret hingga membuat orang lain tidak nyaman akibat sikap kita juga memiliki konsekuensi hukum tersendiri.

Sederhananya Observe, adapt, and repect others

GO OUT THERE

Setelah semua hal tersebut telah dipersiapkan, pergilah ke luar. Jangan terlalu dipusingkan dengan banyak teori terlebih dahulu. Saya ingat beberapa saat yang lalu ketika saya menggeser kebiasaan membeli peralatan memotret ke memperbanyak membeli buku tentang fotografi. Tidak ada yang salah dari hal tersebut, sangat positif malah. Tapi dasar saya, slogan bijak yang menyebut “Stop buying gears, start buying books” bergeser menjadi “Buying Books too much, and never shoot” hehe. Tentunya hal tersebut mungkin terjadi pada diri saya sendiri yang kurang bisa fokus mempelajari fotografi sehingga saya sempat keasyikan membaca literatur, buku, artikel-artikel di Internet sampai saya melupakan bahwa di luar semua itu adalah dunia yang sesungguhnya. Membaca adalah hal yang baik, tapi tentu akan menjadi lebih baik jika kita bisa menyeimbangi teori-teori fotografi tersebut dengan keluar rumah menuju jalanan dan memotret.

Dan kalau butuh teman hunting, jangan sungkan-sungkan ajak saya ya :)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
  • http://alfdjones.tumblr.com/ Alfonsus D. Johannes

    Mas, mau tanya, dengan ricoh GR yg sekarang apa pakai viewfinder?
    terima kasih :)

    • Tomynurseta

      kadang pakai kadang lepas mas :). Terima Kasih

      • http://alfdjones.tumblr.com/ Alfonsus D. Johannes

        kalo boleh tau pake viewfinder apa ya mas?
        saya pengen coba juga pake VF tp belum nemu yg jual untuk ricoh gr di daerah saya.

        • Tomynurseta

          pakai voigtlander punya 28mm ada mas, atau beli yg custom made di ebay ada seller yg buat handmade

          • http://alfdjones.tumblr.com/ Alfonsus D. Johannes

            ok mas makasih infonya ya :)

  • http://martoscbox.wordpress.com/ Martosc, [Gm]

    Deritanya keliaran di jalan dengan kamera warna hitam… setelah beberapa waktu, badan kamera jadi panas hihihi

    • Tomynurseta

      hihihi… betul itu :)