Mengapa Foto Hitam Putih Masih Ada?

Membuka arsip foto karya fotografer LIFE magazine dalam buku LIFE, The Classic Collection sambil menikmati seduhan kopi di bilangan Pasar Santa membuat saya seperti digandeng kembali ke masa lalu. Kumpulan foto tentang hal yang sederhana dan cenderung bukan merupakan kejadian spektakuler namun cukup menjadi cerminan tentang imajinasi saya tentang masa lalu. Fotografer LIFE seperti Alfred Eisenstaedt, W. Eugene Smith, Robert Capa, dan lainnya ditampilkan dalam buku tersebut dengan foto-foto yang melegenda. Foto di dalam buku tersebut 70-85% disajikan dalam format foto hitam putih. Dan foto-foto tersebut sangat bisa dinikmati dalam format hitam putih. Muncul dugaan mungkin karena foto-foto tersebut direkam pada era dimana film yang tersedia hanyalah hitam putih. Namun seketika juga terbantahkan saat saya mengingat foto-foto Trent Parke atau Matt Black dalam Geography of Poverty  yang direkam relatif baru-baru ini juga mayoritas disajikan dalam format hitam putih.
wp-1456813872285.jpg

Life, The Classic Collection

Pikiran bahwa foto hitam putih hanya karena keterbatasan teknologi juga terbantahkan oleh Sebastiao Salgado dalam karya terbarunya Genesis juga menyajikan seluruh fotonya dalam format hitam putih, Bahkan dalam wawancaranya dengan Bryan Appleyard dari Sunday Times, Salgado megungkapkan ketidakpercayaannya pada warna dalam foto berwarna.
“I never see this red in my life.” Colour itself was a kind of lie. “It was a huge exaggeration — when I saw my colour picture, I was much more interested in the colour than in the personality or dignity of the person. How can I go to a person and make them my story, and I don’t feel the story in my photographs? Of course, black and white is an abstraction, but from the brightest white to the darkest black what you have is greys, and these greys are what I had in my mind when I took the pictures.” – Sebastiao Salgado.

Foto Hitam Putih 

Idul Qurban 2015 © Tomy Nurseta

Idul Qurban 2015 © Tomy Nurseta

 
Dulu saat saya baru memulai fotografi saya mengira kalau hitam putih itu lebih nyeni, lebih keren, dan terkesan art banget lah pokoknya tanpa tahu kenapa. Pokoknya ikut-ikutan semua foto dibuat hitam putih. Konyol memang hehe. Sejak menyukai genre landscape, saya berbalik arah, saya beranggapan hitam putih hanyalah gimmick, bualan belaka. Kenapa saya harus membatasi informasi warna di dalam foto saya, kenapa saya harus membatasi diri sendiri. Muncul pendapat pribadi bahwa hitam putih adalah keterbatasan.
 
Namun setelah sekian waktu menikmati fotografi, beberapa literatur, dan buku foto, saya menemukan bahwa hitam putih bukanlah sebuah keterbatasan. Menyajikan foto secara hitam putih justru menjadi sebuah pilihan kreativitas jika digunakan dengan tepat. Hitam putih memiliki keunggulannya yang tidak mungkin dilakukan oleh kehadiran warna warni dalam foto.

Warna mengalihkan perhatian

Idul Adha 2015 © Tomy Nurseta

Idul Adha 2015 © Tomy Nurseta

 
“When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in Black and white, you photograph their souls!” Ted Grant
Hitam dan putih juga merupakan warna. Tetapi warna yang dimaksud disini adalah warna warni selain hitam putih. Warna adalah salah satu informasi yang dapat disampaikan dalam frame foto, namun seringkali kehadiran banyak warna juga menjadi pengganggu bagi informasi utama yang ingin kita sampaikan kepada viewer. Seperti halnya saat kita membaca artikel. Bayangkan jika dalam sebuah artikel kita menemui Informasi yang terlalu banyak dan tidak nyambung satu sama lain, pasti membingungkan. less is more.
Manusia pada dasarnya menyukai kesederhanaan. Informasi yang lebih sederhana akan lebih mudah ditangkap viewer karena manusia sudah cukup banyak melihat chaos dalam kesehariannya. Jutaan informasi dilihat oleh setiap mata, setiap hari, dalam kadar tertentu, warna warni yang disajikan secara tidak harmonis adalah keributan/ chaos. Menyajikan foto dalam format hitam putih akan membuat viewer lebih fokus kepada detil dalam komposisi foto, kepada konten foto itu sendiri.

Timeless

Semua yang terekam dalam foto adalah bagian dari masa lalu. Dan alasan umum format foto hitam putih masih eksis hingga saat ini karena hitam putih diyakini mampu membuat foto tidak mengenal batasan waktu. Ketidakhadiran warna sebagai informasi tambahan membuat foto hitam putih cenderung tidak memiliki informasi mengenai kapan foto tersebut direkam.
Baduy Villager 2010 © Tomy Nurseta

Baduy Villager 2010 © Tomy Nurseta

Melihat Cahaya dengan Berbeda

Dari sisi fotografer, ketika memotret dalam format berwarna, maka fotografer akan banyak mempertimbangkan warna. Tapi ketika memotret dalam hitam putih, maka perhatian kepada warna warni dapat dialihkan kepada cara kita melihat cahaya. Cahaya adalah bahan baku agar sebuah foto dapat direkam dan kualitas cahaya yang akan berpengaruh besar terhadap kualitas foto yang direkam, baik dalam eksposur maupun kontras. Fotografer yang terbiasa melihat secara hitam putih akan mampu menilai dan mengukur kualitas cahaya dengan baik.
Weaving © Tomy Nurseta Baduy, 2013

Weaving © Tomy Nurseta Baduy, 2013

Memperkuat Pemanfaatan Negative Space

Dalam fotografi, dikenal adanya notan, yang merupakan istilah bahasa Jepang dari pemanfaatan gelap-terang, negative dan positive space untuk menghasilkan karya seni dimana elemen yang satu mengisi bagian yang lain secara seimbang dan harmonis. Positive Space, adalah bagian utama dalam sebuah gambar. Negative space, menjadi bagian yang mengelilingi bagian utama. Istilah ini dalam fotografi sering disebut dengan istilah foreground dan background. Tapi menurut saya, istilah negative dan positive space lebih tepat digunakan.
Passing - 2013 © Tomy Nurseta

Passing – 2013 © Tomy Nurseta

Dalam penggunaannya, negative/ positive space akan bekerja membentuk shape dan form atau bahasa gampangnya rupa dan bentuk dimana kehadiran warna berpotensi mengganggu viewer untuk menemukan komposisi notan. Disinilah keunggulan foto hitam putih dimana foto yang dihasilkan dengan notan akan lebih kuat shape dan form nya.

Menciptakan konsistensi dan kohesi antar foto

Jika kita menyajikan serangkaian foto, maka hitam putih akan membuat ikatan antar foto tersebut semakin kuat. Dalam fotografi yang disajikan berwarna, konsistensi ambang putih (white balance) akan menjadi pekerjaan tambahan tersendiri. Belum lagi masalah akurasi warna, Setiap kamera digital memiliki built in software pengolah gambar yang tanpa disadari langsung mengolah hasil foto dengan profil yang berbeda-beda, membuat warna pada kamera X berbeda dengan kamera Y. Chaos.
Terlebih lagi pada era digital, dimana penyajian dan publikasi foto secara digital (melalui website, media sosial, dll) lebih mendominasi maka walaupun warna sudah konsisten pada layar monitor fotografer, belum tentu warna tersebut disajikan dengan tepat pada layar orang lain. Pergeseran warna ini yang mungkin membuat SEBASTIAO SALGADO mengungkapkan “color is a lie”. Merah yang tidak nyata, biru yang terlalu segar.
Masih ingat foto pakaian yang menjadi perdebatan panjang melalui tagar #TheDress, karena sebagian orang melihat warna hitam dan biru sedangkan sebagian lainnya melihat pakaian tersebut berwarna putih dan emas. Hal tersebut menjadi salah satu inkonsistensi warna yang dialami viewer karena sistem visual pada otak manusia, tanpa disadari, mencoba memfilter warna untuk melihat warna asli dari sebuah foto yang dilihatnya, seperti yang diungkapkan oleh Bevil Conway, seorang neuroscientist.
The Dress, #thedress , Credit to the Photographer

The Dress, #thedress , Credit to the Photographer

Konsistensi hitam putih akan lebih terasa manfaatnya untuk serangkaian foto dalam photo story, dengan keseragaman yang dimiliki foto hitam putih maka ikatan/kohesi antar foto akan lebih kuat sehingga rangkaian foto benar-benar membentuk cerita atau narasi yang kuat.
Motherhood © Tomy Nurseta

Motherhood © Tomy Nurseta

 

Vacation © Tomy Nurseta

Vacation © Tomy Nurseta

 

Verdict

Foto hitam putih adalah sebuah pilihan kreativitas yang memiliki banyak keunggulannya dibandingkan foto berwarna dan ternyata bukan hanya biar kelihatan sok nyeni aja. hehe. Dengan penggunaan yang tepat, maka sebuah foto akan tersaji dengan baik dalam format hitam putih.

Diluar keunggulan foto hitam putih yang sebagian sudah ditulis di atas, bukan berarti fotografi berwarna jelek. Semua memiliki kelebihannya masing-masing baik itu foto hitam putih maupun berwarna. Fotografer lah yang harus memikirkan format mana yang tepat untuk fotonya. Untuk foto berwarna akan diobrolin di post berikutnya :)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail